Mengenal Tumbuhan Paku yang Bermanfaat

Mengenal Tumbuhan Paku yang Bermanfaat

Tumbuhan paku merupakan sekelompok tanaman yang mempunyai sistem pembuluh sejati atau biasa disebut (Tracheophta) tetapi tidak pernah menghasilakn biji untuk resproduksinya. Walaupun tumbuhan ini tidak pernah memiliki biji untuk melakukan perkembang biakan, Tumbuhan paku biasa juga disebut sebagai paku pakuan atau pakis pakisan. Dalam bahasa inggris tumbuhan ini dikenal dengan sebutan “fern”. Tumbuhan ini tidak memiliki reproduksi biji, kelompok tanaman paku biasanya menggunakan spora untuk melakukan berkembang biak. Tumbuhan ini juga dapat ditemukan hampir disemua daerah, kecuali di daerah bersalju abadi. Hampir 12000 spesies tumbuhan paku dan sekitar seperempatnya berada di Indonesia

Ciri ciri tumbuhan paku

Setelah anda mengenal perngertian tumbuhan paku, sekarang kami akan menunjukkan apa saja ciri ciri dari tanaman paku. Secara umum dikenal dengan ciri khusus daun mudanya yang menggulung pada bagian paling ujun. Meskipun sebenarnya ciri ini hanya berlaku pada ciri ini sebenarnya hanya berlaku pada paku leptosporangiatae dan anggota Marattiales. Ciri ciri morfologi tumbuhan paku yang lain antara lain.

  1. Memilki akar, batang serta daun.
  2. Memiliki dua pembuluh angkut yaitu cilem dan floem
  3. Ukuran dari tumbuhan ini bervariasi, mulai dari beberapa meter hingga paling tinggi 6 meter.
  4. Penampilan dari tumbuhan ini sendiri beraneka ragam, mulai dari yang berupa pohon, semak, epifit, tumbuhan merambat, mengapung, di air, hingga hidrofit.
  5. Pada paku leptosporangiatae dan anggota Marattiales, daun mudanya memiliki ciri khas menggulung pada bagian ujungnya dan bersisik.
  6. Mengalami metagenesis (pergiliran keturunan), yaitu tahap sporofit (menghasilkan spora) dan gametofit (menghasilkan sel kelamin).
  7. Beberapa jenis tumbuhan paku contohnya anggota selaginellales dan salviniales memiliki spora jantan yang ukurannya lebih kecil dibandingkan spora betina yang lebih besar.
  8. Tidak menghasilkan bunga, melainkan spora. Spora terdapat di dalam kotak spora atau sporangium. Kotak kota spora ini akan terkumpul di sorus. Sorus sorus ini berkumpul di permukaan bawah dari helaian daun.

Jenis jenis tumbuhan paku

Jenis jenis tumbuhan paku bisa dibagi menjadi empat kelas dengan cakupan menyempit, antara lain:

  1. Psilotopsida (mencakup bangsa Psilotaless dan ophioglossales), sekitar 92 spesies
  2. Equisetopsida (paku ekor kuda dan termasuk kerabatnya yang sudah punah), dengan sekitar 15 spesies yang masih bertahan di bumi
  3. Marattiopsida, sekitar 150 spesies
  4. Polypodiopsida (mencakup seluruh paku leptosporangiataea), lebih dari 9000 spesies.

Paku purba (psilopsida)

Paku Purba
Via : Utakatikkotak.com

Sebagian jenis paku purba ini sudah banyak yang punah. Paku purba adalah paku telanjang, mengapa telanjang karena paku jenis ini tidak memiliki daun atau daun kecil. Paku ini dahulu sering ditemukan dan hidup di zaman purba dalam bentuk fosil

Ciri ciri

  1. Homosfor
  2. Umumnya mikrofil dan batang berklorofil
  3. Tidak memiliki akar daun sejati
  4. Hidup didaerah yang tropis dan subtropis
  5. Diperkirakan sampai saat ini tinggal 10 sampai 13 jenis
  6. Paku ini adalah jenis paku yang paling sederhana
  7. Sporagium terletak di ketiak daun disebut sinangium

Paku sarang

Paku sarang
Via : Blodiversitywarriors.org

Paku sarang atau biasa disebut paku sarang burung mempunyai nama ilmiah Asplenium nidus. Merupakan jenis paku yang populer sebagai tanaman hias. Paku sarang tumbuh tersebar diseluruh kawasan yang diamati mulai 1060 – 1240 mdpl. Tumbuhan epifit dibatang pohon yang telah ditebang tsampai ranting pohon besar. Paku ini dapat dijumpai menumpang dengan pohon lain dan menyukai daerah yang agak lembab dan tahan terhadap paparan sinar matahari langsung.

Ciri Ciri

  1. Memiliki daun tunggal
  2. Batang yang pendek ditutupi oleh sisik yang halus dan lebat
  3. Mempunyai akar rimpang dan kokoh
  4. Memiliki tajuk yang besar an entalnya mencapai panjang 150 cm

Paku ekor kuda

Paku ekor kuda
Via : Wikipedia

Spesies untuk jenis paku yang satu ini hanya tersisa 25 spesies saja. Tumbuhan ini biasanya dapat di temukan pada tepian sungai yang lembab dan ada di daerah subtropis dibelahan bumi utara. Paku ekor kuda disebut dengan ekor kuda karena mempunyai percabangan batang yang khas berbentuk ulir atau lingkaran yang menyerupai ekor kuda. Paku ekor kuda biasanya sering tumbuh di daerah berpasir. Sporofitnya berdaun kecil atau berbentuk sisik, dan warnanya aga transparan dan tersusun melingkar pada batang.

Ciri cirinya

  1. Kebanyakan tumbuh pada tepian sungai dan daerah subtropis di belahan bumi utara
  2. Memiliki tinggi 1 meter hingga yang paling tetinggi 4,5 meter
  3. Memiliki percabangan pada batang yang berbentuk ulir atau lingkaran menyerupai ekor kuda
  4. Sporofit berdaun kecil dengan berbentuk sisi yang menganduk silika
  5. Warna agak transparan dan tersusun melingkar pada batang
  6. Struktur batang berongga dan beruas ruas
  7. Memiliki akar, batang, dan daun sejati
  8. Sporangium terdapat pada strobilus yang menghasilkan satu spora saja

Paku kawat

Paku kawat
Via : Wikipedia

Lycopsida (paku kawat) biasa disebut juga dengan club moss (lumut ganda) atau ground pine (pinus tanah), namun sebenarnya bukan merupakan lumut atau pinus. Paku ini sudah diperkiran ada sejak masa Devonian, dan tumbuh melimpah pada masa karboiferus. Lycopsida pada nasa tersebut telah menjadi fosil atau endapan batu bara. Pada masa karboniferus lycopsida memiliki ukuran besar sekitar 3m yang hidup di rawa rawa selama jutaan tahun lalu, namun punah ketika rawa rawa mulai mengering. Di indonesia terdapat dua spesies yaitu Lycopodium cernuum dan Lycopodium clavatum. Tumbuhan ini disebut paku kawat karena strukturnya yang hampir menyerupai kawat. Bentuk jenis paku Lycopodium cernuum memiliki bentuk unik dan biasa dijadikan tanaman hias dan digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan rangkaian bunga. sedangkan jenis spesies Lycopodium clavatum digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan obat dalam bentuk pil.

Ciri-ciri

  1. Batang berbentuk seperti kawat dan struktur berbenduk gada
  2. Ujung batang tersusun sporofil
  3. Memiliki akar, batang dan daun sejati
  4. Tumbuh didaerah tropis
  5. Menghasilkan satu jenis spora (homospora) dan dua jenis spora (heterospora).
  6. Gametofit berukuran kecil dan tidak berkrolofil.
  7. Gametofit menghasilkan dua jenis alat kelamin (biseksual), dan satu jenis alat kelamin (uniseksual)

Paku sejati

Paku sarang
Via : Duniaplant.blogspot.com

Pteropsida (paku sejati) memiliki jumlah spesies sekitar 12,000. Paku ini adalah kelompok yang sering kita jumpai di berbagai habitat khususnya pada tempat yang lembap. Pteropsida hidup di tanah, air, dan epifit pada pohon. Pteropsida yang hidup di hutan tropis memiliki berbagai variasi jenis, namun ada juga paku lainnya yang sering kita jumpai karena dijadikan sebagai tanaman hias. Tumbuhan paku ini mempunyai daun dengan ukuran yang cukup besar, duduk dengan bentuk daunnya menyirip. Dalam kehidupan sehari hari, paku jenis ini sering disebut pakis yang sebenarnya. Paku ini tumbuh di daerah daerah yang lembab dan teduh.

Ciri ciri

  1. Memiliki akar, batang, dan daun yang sejati
  2. Kebanyakan tumbuh di daerah tropis
  3. Dapat ditemukan di habitat yang lembab ddan hidup di tanahm di air, atau epifit di pohon
  4. Memiliki ukuran batang yang berbagai macam
  5. Batang berada dibawah permukaan tanah (rizom)
  6. Daun paku sejati memiliki ukuran yang besar dibandingkan dengan kelompok paku yang lainnya
  7. Daun yang masih muda akan menggulung (circinate)
  8. Sporangium terkumpul dalam sorul yang berada dibawah permukaan daun
  9. Gematofit memiliki klorofil dengan ukuran yang bervariasi

Lycopodium cernuum

Lycopodium cernuum
Via : commons.wikimedia.org

Lycopodium cernuum adalah salah satu contoh tanaman paku yang dimana tanaman paku ini berupa terna kecil yang biasanya akan digunakan dalam pembuatan karangan bunga hias. Tanaman paku ini memiliki batang yang tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang cabang yang tumbuh ke atas. Di dalam batangnya terdapat berkas pengangkut yang masih sederhana. Daun daun yang dimiliki oleh jenis paku ini berbentuk garis atau jarum dan berambut. Sedangkan akarnya menggarpu dan bercabang cabang. Protalium tumbuhan paku ini berbentuk umbi kecil bewarna keputih putihan di dalam tanah dan bersifat sporofit. Biasanya umur protaliumnya dapat mencapai hingga 20 tahun.

Paku rane

Paku rane
Via : Biodiversitywarriors.org

Paku rane juga merupakan salah satu contoh dari paku kawat. Paku ini mempunyai ciri ciri dan struktur yang tidak jauh berbeda dengan lycopodium. Selaginella memiliki batang yang berbaring atau berdiri tegak, cabang cabangnya menggarpu dan tidak menebal. Tumbuhan ini ada yang membentuk rumpun dan adapula yang memanjat dengan tunas hingga mencapai beberapa meter. Batangnya memiliki daun daun kecil yang tersusun spiral dan hanya memiliki satu tulang daun. Tumbuhan ini memiliki pendukung akar, atau akr akar yang keluar dari bagian bagian batang yang tidak berdaun. Tumbuhan ini memiliki sifat heterospora dan memiliki protalium yang sangat kecil.

Paku tanduk rusa

Paku tanduk rusa
Via : Wikipedia

Paku tanduk rusa adalah salah satu jenis dari tumbuhan paku sejati. Tumbuhan ini hidup dengan melekatkan akarnya di pohon lain atau bebatuan. Tumbuhan ini memiliki dua jenos daun yakni daun troporofil dan sporofil. Bentuk daun dari tumbuhan ini bulat seperti telur. Biasnya, tumbuhan ini dijadikan sebagai tanaman hias atau tanaman obat.

Metagenesis tumbuhan paku

Tidak seperti manusia dan hewan, jenis jenis tanaman paku akan mengalami suatu pergantian fase hidup pada masing masing generasinya yang disebut metagenesis. Proses ini mengakibatkan adanya dua macam fase hidup pada tumbuhan paku yang didasarkan pada jumlah kromosomnya, yaitu fase haploid dan fase diploid. Fase haploid pada tanaman paku disebut dengan generasi gematofit, yaitu generasi yang menghasilkan sel kelamin. Fase diploid tanaman paku disebut dengan generasi sporofit, yaitu generasi yang menghasilkan spora. Proses metagenenis tanaman paku bisa mengakibatkan apabila kini suatu tumbuhan paku adalah generasi gematofit maka anaknya akan menjadi generasi saprofit. Begitu pun yang terjadi apabila generasi sekarang adalah saprofit, maka anaknya adalah generasi gametofit. Pada tanaman paku generasi saprofit adalah generasi dominan sehingga paku yang kita lihat sehari hari adalah generasi saprofit. Berikut adalah siklus metagenesis tumbuhan paku.

  1. Gametofit pada tanaman paku bisa dikenali dengan struktur yang berbentuk seperti hati. Dari gametofit inilah sprema dihasilkan oleh gametangia jantan. Sperma akan menuju gametangia betina dengan dibantu oleh kelembapan.
  2. Setelah sperma tiba di gametangia betina, sperma selanjutnya akan membuahi sel telur dan terbentuklah zigot. Zigot akan tetap berada dalam gametangia betina.
  3. Perkembangan terjadi pada zigot melalui proses pembelahan mitosis dan akhirnya terbentuklah sporofit dewasa (tumbuhan paku sehari hari).
  4. Pada tanaman paku terdapat sporangia yaitu kantung kantung yang berisi spora. Pada sporangia terjadi pembelahan meiosis dan hasilnnya adalah spora haploid.
  5. Sporangium akan melepaskan spora yang sudah jadi dan spora berkembang menjadi gametofit. Spora dapat menjadi gametofit yang jantan atau gametofit betina.

Dari siklus diatas, dapat diambil fase 1 dan merupakan fase gametofit sedangkan untuk fase 2,3 dan 4 merupakan fase sporofit. Fase 2,3, dan 4 berlangsung jauh lebih lama dibandingkan dengan fase 1 dan 5 sehingga dalam kehidupan sehari hari kita melihat bentuk saprofit dari tanaman paku.

Manfaat tumbuhan paku

Tumbuhan paku mempunyai banyak sekali manfaat yang berperan dalam kehidupan manusia. Manfaat tumbuhan paku dimana kita ketahui bahwa tumbuhan paku merupakan organisme fotoautotrof, yang artinya adalah dapat membuat makanan sendiri dengan cara berfotosintesis. Tanaman paku akan hidup melimbah dan subur di habitat yang sesuai yaitu di hutan hujan tropis. Tanaman paku memiliki banyak manfaat dan berikut adalah manfaat dari tanaman paku.

Manfaat bagi manusia

  1. Sebagai tanaman hias, contohnya adiantum (suplir), asplenium bidus (paku sarang burung)
  2. Bermanfaat sebagai obat obatan seperti paku ekor kuda yang mempunyai fungsi diuretik
  3. Sebagai bahan bahan untuk membuat makanan seperti sayuran, misalnya semanggi
  4. Sebagai pupuk hijau, seperti azolla pinnata bersimbiosis dengan ganggang biru anabaena azollae
  5. Sebagai bahan pembuatan peratasan seperti pyrotechnics, dengan menggunakan spora lycopodium sp
  6. Sebagai salah satu bahan membuat karangan bunga, seperti lycopodium cernum

Selain memiliki dampak yang menguntungkan bagi manusia, tanaman paku juga mempunyai sisi dampak negatif seperti berikut ini.

  1. Pada paku garuda terdapat senyawa yang beracun karena terdapat kandungan ptaquiloside. Dampak berbahaya dari mengkonsumsi paku ini adalah dapat menyebabkan kanker di perut atau lambung.
  2. Dampak negatif lainnya terdapat pada paku ekor kuda. Adalah tumbuhan invasif, tumbuhan invasif sangat merugikan karena pertumbuhan yang penyebarannya luas dan dapat menyebabkan tumbuhan yang asli kalah. Dengan demikian menanam tumbuhan, pastikan tidak bersamaan dengan tumbuhan paku erkor kuda karena bias merugikan tanaman utamnya.
  3. Paku cakar elang mempunyai kandungan ptaquiloside karena berisiko dapat menyebabkan kangker kerongkongan dan kanker pencernaan. Selain itu ptaquiloside merupakan jenis racun yang terdapat pada tumbuhan paku cakar elang.
  4. Culcita macrocarpa memiliki manfaat yang merugikan bagi kehidupan yaitu mengandung racun dan apabila dikonsumsi maka akan sulit dicerna.
  5. Gleichenia lineari (Paku Resam) memiliki manfaat merugikan bagi tumbuhan lain karena memiliki pertumbuh cepat dan penyebaran yang luas. Pertumbuhan yang demikian menjadikan tumbuhan Gleichenia linearis (Paku Resam) sebagai tumbuhan invasif. Dengan demikian dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain. Oleh karena itu, penanaman yang dibarengi dengan jenis paku Gleichenia linearis (Paku Resam) tidak disarankan karena akan menganggu tanaman utama yang akan anda tanami.

BACA JUGA : Cara Membuat Pupuk Kompos

Struktur tumbuhan paku

Tumbuhan paku adalah tumbuhan berpembuluh yang tidak mempunyai biji. Tumbuhan paku memiliki pembuluh angkut berupa floem dan xilem, namun tidak memiliki bunga dan biji sebagai media perkembangbiakannya. Paku termasuk tumbuhan berkormus (cormophyta) karena telah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Berbeda dengan lumut, yang disebut tumbuhan berkalus (thalophyta) di karenakan tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati. Pada umumnya paku hidup di lingkungan yang cukup lembab. Terdapat tanaman paku yang berbatang pendek nampak seperti rumput dan ada juga paku yang berbatang panjang mirip pohon. Paku merupakan tumbuhan prasejarah yang telah ada sejak zaman dahulu ketika dinosaurus masih menguasai bumi. Tumbuhan paku memiliki struktur unik yang berbeda dengan lumut dan tumbuhan berbiji.

Struktur tubuh tanaman paku sebagai berikut.

Seperti tumbuhan pada umumnya, tubuh paku dapat dibedakan menjadi akar, batang, dan daun. Bagian-bagian ini nampak sangat jelas pada jenis paku yang berbatang tinggi seperti paku tiang. Tanaman paku mengalami dua fase dalam kehidupannya atau biasa disebut dengan pergiliran keturunan. Dalam siklus hidupnya paku mengalami fase gametofit dan fase sporofit. Fase gametofit paku berukuran sangat kecil dan sulit diamati sedangkan fase sporofit merupakan bentuk tanaman paku yang biasa kita lihat. Penjelasan lebih rinci tentang 2 fase yang dialami tumbuhan paku.

Sporofit dan gametofit tumbuhan paku

Akar tumbuhan paku

Fase gametofit tumbuhan paku memiliki akar semu yang disebut rhizoid, akar ini seperti yang terdapat pada tumbuhan lumut. Rhizoid memiliki fungsi yang sama dalam menyerap air dan mineral dari dalam tanah, namun masih memiliki struktur jaringan yang sederhana. Sedangkan fase sporofitnya memiliki akar sejati dengan tipe akar serabut. Akar serabut adalah tipe akar yang tidak memiliki akar pokok, seperti yang dimiliki oleh tumbuhan monokotil (padi, jagung, dll).

Batang tumbuhan paku

Batang tumbuhan paku pada fase gametofit disebut protalium. Batang ini memiliki bentuk seperti lembaran kecil yang juga berfungsi sebagai tempat fotosintesis. Bisa juga dikatakan bahwa batang semu ini juga berlaku sebagai daun semu. Sedangkan pada fase sporofit, tumbuhan paku telah memiliki batang sejati dengan jaringan pembuluh angkut xilem dan floem. Batang paku ada yang berukuran pendek hingga hampir tidak nampak dan ada pula yang tinggi seperti pohon.

Daun tumbuhan paku

Daun tumbuhan paku dapat dibedakan berdasarkan bentuk dan fungsinya. Pembahasan tentang daun hanya terbatas pada fase sporofit tumbuhan paku. Berdasarkan bentuknya, daun paku dapat dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil merupakan daun berukuran kecil (seperti gumpalan) yang terdapat di sekitar batang dan tulang daun paku. Mikrofil merupakan daun yang belum terdiferensiasi, artinya daun tersebut masih memiliki jenis jaringan yang sama, belum memiliki jaringan yang berbeda-beda. Sedangkan makrofil merupakan daun sejati yang digunakan untuk melakukan fotosintesis. Jaringan makrofil telah terdiferensiasi sehingga dapat dibedakan bagian epidermis (lapisan paling luar) dan mesofil daun. Mesofil adalah bagian di dalam epidermis yang tersusun atas jaringan parenkim dan jaringan pengangkut.

Gumpalan coklat pada sporofil

Berdasarkan fungsinya, daun paku dapat dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus digunakan untuk melakukan fotosintesis. Sedangkan sporofil adalah daun yang selain melakukan fotosintesis juga dapat menghasilkan spora sebagai media perkembangbiakan paku. Spora paku umumnya akan muncul dari bagian bawah daun atau pada ujung tepi daun. Spora tersebut terdapat dalam kotak spora/ sporangium yang akan menjadi tempat perkembangan spora, sporangium akan menggerombol membentuk sorus. Sorus berwarna coklat dan berbentuk seperti gumpalan pada daun.

Berdasarkan jenis sporanya, tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi paku homospora, paku heterospora, dan paku peralihan.

Paku homospora (disebut juga isospora) hanya menghasilkan satu jenis spora saja yang memiliki bentuk dan ukuran sama. Contoh paku homospora adalah Lycopodium sp. (paku kawat) dan Adiantum cuneatum (suplir).

Paku heterospora adalah tumbuhan paku yang menghasilkan dua jenis spora, yaitu makrospora (betina) dan mikrospora (jantan).  Contoh paku heterospora adalah Selaginella sp. (paku rane) dan Marsilea crenata (semanggi).

Paku peralihan adalah tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama namun sifatnya berbeda, membawa sifat jantan dan betina. Contoh paku peralihan adalah Equisetum debile (paku ekor kuda).

Reproduksi tumbuhan paku

Tumbuhan paku atau Pteridophyta bereproduksi secara vegetatif (vegetatif) maupun generatif (generatif). Reproduksi secara vegetatif terjadi dengan pembentukan spora melalui pembelahan meiosis sel induk spora yang terdapat di dalam sporangium (kotak spora).

Spora akan tumbuh menjadi gametofit. Selain melalui pembentukan spora, reproduksi secara vegetatif juga dapat dilakukan dengan rizom. Rizom akan tumbuh menjalar dan membentuk tunas-tunas tumbuhan paku yang berkoloni (bergerombol). Reproduksi generatif bisa terjadi melalui fertilisasi ovum oleh spermatozoid berflagel yang menghasilkan zigot. Zigot tersebut akan tumbuh menjadi sporofit. Dalam siklus hidupnya, tumbuhan paku mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara generasi gametofit yang berkromosom haploid (n) dan generasi sporofit yang berkromosom diploid (2n). Generasi sporofit hidup lebih dominan atau memiliki masa hidup yang lebih lama dibanding generasi gametofit. Metagenesis pada sikius hidup tumbuhan paku homospora adalah sebagai berikut.

  1. Spora berkromosom haploid (n) bila jatuh di habitat yang cocok akan berkecambah, sel-selnya membelah secara mitosis dan tumbuh menjadi protalium (gametofit) yang haploid (n).
  2. Protalium membentuk alat kelamin jantan (anteridium) dan betina (arkegonium) yang haploid (n).
  3. Anteridium menghasilkan spermatozoid berflagel (n) dan arkegonium menghasilkan ovum (n).
  4. Spermatozoid (n) membuahi ovum (n) di dalam arkegonium dan menghasilkan zigot yang diploid (2n).
  5. Zigot (2n) akan mengalami proses pembelahan secara mitosis dan tumbuh menjadi tumbuhan paku (sporofit) yang diploid (2n). Tumbuhan paku tersebut tumbuh keluar dan arkegonium induknya.
  6. Sporofit (tumbuhan paku) dewasa menghasilkan sporofil (2n) atau daun penghasil spora.
  7. Sporofil (2n) memiliki sporangium (2n). Di dalam sporangium terdapat sel induk spora yang berkromosom diploid (2n). Sel induk spora (2n) mengalami pembelahan meiosis dan dapat menghasilkan spora yang haploid (n).
  8. Pteridophyta sering dikenal oleh masyarakat umum sebagai tumbuhan paku. Tumbuhan paku umumnya hidup di daratan pada tempat-tempat yang basah atau lembap. Hanya beberapa jenis saja yang hidup di air. Tumbuhan ini banyak di jumpai di daerah tropis hingga daerah beriklim sedang.

Siklus hidup tumbuhan paku homospora

Tumbuhan paku adalah satu tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya. Tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain. Tumbuhan paku yang mudah kita lihat dan biasa dijumpai merupakan bentuk fase sporofit karena menghasilkan spora. Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut yaitu xilem dan floem. Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan